‘Menjadi’ atau ‘Mencari’ Korban Disruptive Innovation

Sebenarnya ini sudah artikel ke-8, tapi artikel-artikel sebelumnya sudah hilang karena tidak di-backup *ceileh pake penulisan TTKI*. Nah, di artikel ini saya akan menuliskan sedikit catatan dari mata kuliah Design Thinking for Innovation. Mata kuliah ini merupakan salah satu mata kuliah di semester pendek jurusan Entrepreneurship a.k.a Kewirausahaan ITB). Di pertemuan pertama, kami mendapatkan materi mengenai Disruptive Innovation dari Pak Eko (dosen Tamu sepertinya, ngajar sekali).

Apa sih “Disruptive Innovation”?

Disruptive Innovation adalah inovasi yang membuat produk-produk atau bisnis-bisnis sebelumnya mati (disrupt the existing products or business environment). Bukan dengan menawarkan kualitas yang lebih baik, tapi Disruptive Innovation justru menawarkan kualitas produk yang rendah. Kualitasnya dibawah produk lain, dan dibawah apa yang diminta pasar. Kurang lebih seperti ini jika diilustrasikan :

Model Disruptive Innovation

Namun kenapa bisa membuat produk lain mati? Jawabannya adalah dengan membawa value baru. Value baru ini berkembang selaras dengan kemajuan teknologi (Technological Shift). Contoh-contoh value yang dibawa seperti simplicity, mobility, dan portability. Dengan value baru ini, disruptive innovation mampu menciptakan pasar yang baru.

Tetapi satu hal yang perlu diingat, tidak selamanya produk disruptive innovation ini berkualitas rendah. Seiring berjalannya waktu, produk itu akan dikembangkan kualitasnya hingga mampu melampaui

Contoh Disruptive Innovation

Kodak VS Digital Imaging

Kodak

Kami disuguhkan dengan gambar ini tanpa penjelasan apa-apa. Semuanya saling bertanya-tanya, apa sih maksud dari gambar ini? Apa ini yang dimaksud dengan inovasi yang menghancurkan produk lain? Apa produknya properti, jadi terganggu sampai seperti ini bisnisnya? Nope!!!

Di atas merupakan gambar saat diruntuhkannya salah satu bangunan Kodak di tahun 2007, saat dimana Kodak mengalami keruntuhan secara perlahan. Apa yang membuat Kodak runtuh seperti ini? Padahal Kodak sudah memiliki pasar para fotografer yang setia, kualitas gambar yang dihasilkanpun sangat tajam dan terang.

Ternyata eh ternyata, Kodak menjadi korban disruptive innovation. Inovasi digital imaging (kamera digital) membuat Kodak kewalahan dalam menjaga loyalitas para fotografer. Meskipun masih tersisa beberapa fotografer profesional yang tak mau bergeser dari kamera analog, mungkin karena kualitasnya lebih baik. Awal datangnya kamera digital ini tidak dengan kualitas dan performa sebaik kamera analog Kodak. Tetapi kamera digital menawarkan value yang tidak dimiliki kamera analog. Ya, seperti contoh yang saya sebutkan tadi, simplicity, mobility dan portability. Tak hanya value itu saja, kamera digital membutuhkan biaya operasi yang lebih kecil. Jika gambar jelek, cukup hapus saja. Tidak perlu lagi membuang-buang rol film secara percuma, bukan? Menjauhi perbuatan mubazir *hihi

Tak hanya berhenti disitu, kamera digital juga mampu memberi preview gambar secara langsung. Selain itu, kita juga bisa membagikan gambar lebih cepat, tanpa harus mencetak gambar terlebih dahulu. Itulah mengapa kamera digital mampu mengganggu bisnis kamera analog seperti Kodak.

Seperti yang dijelaskan, disruptive innovation juga mampu membuat pasar baru. Begitupun kamera digital, mampu menciptakan pasar baru diluar fotografer profesional. Keluarga bisa foto sendiri ketika liburan, tak perlu sewa fotografer lagi. Kini, setiap orang bisa mengambil gambar dengan kamera di smartphonenya. Kualitasnya sudah bisa melebihi yang dibutuhkan pasar, dan mungkin bisa mengalahkan analog. Contohnya adalah teknologi video resolusi 4K, yang sebenarnya sudah jauh di atas yang dibutuhkan pasar.

“Menjadi” atau “Mencari” Korban?

Dari contoh kasus Kodak itu, kita bisa mengambil pelajaran. Di dalam bisnis, inovasi sangat diperlukan untuk menciptakan value yang unik dari kompetitor. Dalam model disruptive innovation sendiri, dibutuhkan korban-korban yang harus diruntuhkan oleh inovasi tersebut. Meskipun di luar kemauan kita, hal itu pasti akan terjadi. Friendster menjadi korban Facebook, Ojek pangkalan menjadi korban Go-Jek, dan jika kita tidak mau mencari korban, maka bersiaplah bisnis kita menjadi korban selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *