Kejar Market di Media Sosial

Hal terpenting dalam berbisnis adalah pemahaman kita mengenai market atau pasar. Sebagus apapun produk atau jasa yang ditawarkan, jika tidak mampu menyampaikan value tersebut kepada pasar itu hal yang percuma. Ada baiknya jika kita memulai bisnis dengan pengenali pasar kita terlebih dahulu. Dari situ kita bisa tahu kebutuhan mereka, behaviour mereka, ketertarikan mereka, dan daya beli mereka. Dengan pemahaman tersebut, baru kita bisa menciptakan produk yang sesuai dengan pasar ini. Lalu yang tak kalah penting selain penciptaan produk adalah bagaimana cara kita mengejar pasar sasaran kita, atau singkatnya disebut Marketing. Namun yang menjadi masalah baru adalah… apakah marketing zaman dahulu dengan sekarang sama? Nah disini saya akan membahas mengenai perubahan market yang terjadi, dan bagaimana cara menyikapinya. Mulai dari bagaimana memahami market lebih mendalam, dan bagaimana marketing yang lebih efektif dan efisien. Semuanya bisa dilakukan dengan media sosial.


PAHAMI PASARMU DI MEDIA SOSIAL


Kini market telah berubah, yang dulunya market bersifat sempit dan lokal, berpusat di sekitar tempat kita berbisnis saja. Dengan munculnya media sosial, sekarang market sudah bersifat luas, hingga internasional. Dengan meluasnya ukuran market ini, semakin besar pula opportunity yang didapat oleh bisnis kita. Tetapi jangan senang dahulu, dengan meluasnya market, artinya tantangan memahami market kita semakin sulit. Contoh gampangnya, kita disuruh mempelajari market kita yang berada di Amerika Serikat. Bagaimana bisa? Kita kan orang Indonesia? Budaya kita pun berbeda jauh?

Tenang saja, selagi kita mau belajar, semua akan menjadi mudah. Media Sosial adalah salah satu cara kita memahami pasar kita yang sangat luas itu dengan mudah. Masing-masing sosial media sudah menyediakan tools (peralatan) bagi pemilik bisnis untuk mengobservasi marketnya. Sebagai contoh, Facebook memiliki Audience Insight, Google dengan Google Keyword Tool dan Google Analytics, bahkan kini Instagram sudah memiliki fitur Insights untuk mengetahui behaviour dari followers.

Sebagai contoh real, saya akan menceritakan pengalaman saya dalam memahami market menggunakan media sosial. Saya memiliki bisnis di bidang desain grafis. Bisnis saya berfokus pada desain kaos (t-shirt). Saya mengobservasi dahulu, desain seperti apa sih yang disukai oleh market saya. Dan saya memanfaatkan sosial media untuk menarik kesimpulan, dan membuat keputusan saat berjualan di Teespring. Saya menargetkan orang yang hobi Climbing, dan saya membuat dua desain yang berbeda. Dan gambar dengan likes terbanyak, akan langsung saya besarkan budget iklannya. Artinya, iklan tersebut lebih disukai oleh orang di kalangan Climbing. Itulah salah satu contoh observasi target market kita.


MARKET BERUBAH, MARKETING HARUS IKUT BERUBAH


Market sudah mulai berubah. Mereka sudah tidak mau lagi membaca selembaran di jalan-jalan. Mereka lebih tertarik dengan gambar kreatif di internet, video-video menarik di media sosial, dan bacaan-bacaan di blog pribadi. Market telah berpindah tempat ke dunia digital, berselancar sepanjang hari di media sosial. Dengan berubahnya behaviour market, otomatis cara mengejar market pun juga harus berubah dong?

Dahulu, kita mengejar market kita dengan penuh keringat tanpa sebuah kepastian. Menghambur-hamburkan brosur ke semua orang tanpa tahu mereka siapa dan apa yang mereka sukai. Hal ini menyebabkan buncitnya anggaran biaya promosi perusahaan tanpa konversi.

Namun di era Digital Marketing ini, semua dimudahkan. Kita bisa menargetkan kepada siapa iklan kita ditampilkan, dalam kalimat lain, kita tahu kepada siapa harus membagikan brosurnya. Hal ini tidak bisa dilakukan di marketing konvensional yang membagikan brosur secara acak. Anggaran promosi bisa digunakan lebih efisien dan efektif, mampu menghasilkan konversi lebih besar. Lebih jelasnya, tren Digital marketing dijelaskan oleh Weekly Marketing Tips dalam video di bawah ini :

Kembali, bisnis desain grafis saya sebagai contoh realnya. Saya menggunakan Facebook Ads untuk mendapatkan customer/client yang membutuhkan desain. Melalui Facebook Ads itu juga, saya bisa menampilkan iklan saya di Instagram. Iklan saya tampil di media sosial orang-orang yang memiliki ketertarikan dengan desain grafis dan t-shirt. Konversi yang dihasilkan lebih tinggi jika dibandingkan saya menawarkan ke teman-teman kuliah saya (yang memiliki bisnis)


BELAJAR DIGITAL MARKETING DI DUMET SCHOOL


Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kita harus memanfaatkan opportunity dari Digital Marketing ini. Digital Marketing membantu mempromosikan bisnis kamu dengan lebih efektif dan efisien. Meskipun dibilang mudah, kita tetap harus belajar digital marketing kepada ahlinya. Jika tidak, dikhawatirkan nantinya akan membuang-buang anggaran promosi tanpa konversi karena salah dalam proses beriklan, seperti salah interest, dan sejenisnya.

DUMET School hadir dengan kursus digital marketing yang akan membimbing kamu hingga menjadi ahli. Di kursus ini, kamu akan belajar bagaimana mendapatkan customer di internet dengan cepat, mudah dan efektif. Kamu bisa belajar bersama DUMET School di Kelapa Gading, Grogol, Tebet, Srengseng, dan Depok. Sangat beruntung jika kamu berada di lokasi tersebut!

Kursus ini sangat cocok untuk semua kalangan, bahkan untuk yang awam sekalipun. Dijamin, profit bisnis kamu akan meningkat setelah belajar Digital Marketing ini. Kenapa? Karena konversi penjualan kamu meningkat, dan biaya promosi kamu berkurang. Revenue naik, biaya turun, artinya profitmu akan naik kan?

Saya rekomendasikan untuk daftar sekarang juga. Karena setelah daftar, kamu bisa langsung belajar di sana. Kamu akan mendapatkan :

sumber : https://www.dumetschool.com/kursus-digital-marketing

Kursus ini sangat cocok untuk kamu pemilik bisnis, divisi marketing, konsultan marketing, mahasiswa, bahkan dosen sekalipun. Karena bukan hanya bisnis saja yang butuh dipromosikan, tetapi publikasi juga bisa dipromosikan melalui media sosial. Buktinya, DUMET School sudah pernah mengajar 3000+ murid dari sekolah, universitas, instansi pemerintah dan perusahaan ternama.

Jangan ragu lagi untuk mendaftar! DUMET School sudah memiliki banyak testimoni yang sangat memuaskan dari murid-muridnya. Menandakan bahwa kursus digital marketingnya memang berkualitas. Berikut video-video testimoni puas dari murid-muridnya :

Jika sudah yakin untuk mendaftar, berikut adalah daftar harga untuk kursus digital marketing :

COBA FREE TRIAL

‘Menjadi’ atau ‘Mencari’ Korban Disruptive Innovation

Sebenarnya ini sudah artikel ke-8, tapi artikel-artikel sebelumnya sudah hilang karena tidak di-backup *ceileh pake penulisan TTKI*. Nah, di artikel ini saya akan menuliskan sedikit catatan dari mata kuliah Design Thinking for Innovation. Mata kuliah ini merupakan salah satu mata kuliah di semester pendek jurusan Entrepreneurship a.k.a Kewirausahaan ITB). Di pertemuan pertama, kami mendapatkan materi mengenai Disruptive Innovation dari Pak Eko (dosen Tamu sepertinya, ngajar sekali).

Apa sih “Disruptive Innovation”?

Disruptive Innovation adalah inovasi yang membuat produk-produk atau bisnis-bisnis sebelumnya mati (disrupt the existing products or business environment). Bukan dengan menawarkan kualitas yang lebih baik, tapi Disruptive Innovation justru menawarkan kualitas produk yang rendah. Kualitasnya dibawah produk lain, dan dibawah apa yang diminta pasar. Kurang lebih seperti ini jika diilustrasikan :

Model Disruptive Innovation

Namun kenapa bisa membuat produk lain mati? Jawabannya adalah dengan membawa value baru. Value baru ini berkembang selaras dengan kemajuan teknologi (Technological Shift). Contoh-contoh value yang dibawa seperti simplicity, mobility, dan portability. Dengan value baru ini, disruptive innovation mampu menciptakan pasar yang baru.

Tetapi satu hal yang perlu diingat, tidak selamanya produk disruptive innovation ini berkualitas rendah. Seiring berjalannya waktu, produk itu akan dikembangkan kualitasnya hingga mampu melampaui

Contoh Disruptive Innovation

Kodak VS Digital Imaging

Kodak

Kami disuguhkan dengan gambar ini tanpa penjelasan apa-apa. Semuanya saling bertanya-tanya, apa sih maksud dari gambar ini? Apa ini yang dimaksud dengan inovasi yang menghancurkan produk lain? Apa produknya properti, jadi terganggu sampai seperti ini bisnisnya? Nope!!!

Di atas merupakan gambar saat diruntuhkannya salah satu bangunan Kodak di tahun 2007, saat dimana Kodak mengalami keruntuhan secara perlahan. Apa yang membuat Kodak runtuh seperti ini? Padahal Kodak sudah memiliki pasar para fotografer yang setia, kualitas gambar yang dihasilkanpun sangat tajam dan terang.

Ternyata eh ternyata, Kodak menjadi korban disruptive innovation. Inovasi digital imaging (kamera digital) membuat Kodak kewalahan dalam menjaga loyalitas para fotografer. Meskipun masih tersisa beberapa fotografer profesional yang tak mau bergeser dari kamera analog, mungkin karena kualitasnya lebih baik. Awal datangnya kamera digital ini tidak dengan kualitas dan performa sebaik kamera analog Kodak. Tetapi kamera digital menawarkan value yang tidak dimiliki kamera analog. Ya, seperti contoh yang saya sebutkan tadi, simplicity, mobility dan portability. Tak hanya value itu saja, kamera digital membutuhkan biaya operasi yang lebih kecil. Jika gambar jelek, cukup hapus saja. Tidak perlu lagi membuang-buang rol film secara percuma, bukan? Menjauhi perbuatan mubazir *hihi

Tak hanya berhenti disitu, kamera digital juga mampu memberi preview gambar secara langsung. Selain itu, kita juga bisa membagikan gambar lebih cepat, tanpa harus mencetak gambar terlebih dahulu. Itulah mengapa kamera digital mampu mengganggu bisnis kamera analog seperti Kodak.

Seperti yang dijelaskan, disruptive innovation juga mampu membuat pasar baru. Begitupun kamera digital, mampu menciptakan pasar baru diluar fotografer profesional. Keluarga bisa foto sendiri ketika liburan, tak perlu sewa fotografer lagi. Kini, setiap orang bisa mengambil gambar dengan kamera di smartphonenya. Kualitasnya sudah bisa melebihi yang dibutuhkan pasar, dan mungkin bisa mengalahkan analog. Contohnya adalah teknologi video resolusi 4K, yang sebenarnya sudah jauh di atas yang dibutuhkan pasar.

“Menjadi” atau “Mencari” Korban?

Dari contoh kasus Kodak itu, kita bisa mengambil pelajaran. Di dalam bisnis, inovasi sangat diperlukan untuk menciptakan value yang unik dari kompetitor. Dalam model disruptive innovation sendiri, dibutuhkan korban-korban yang harus diruntuhkan oleh inovasi tersebut. Meskipun di luar kemauan kita, hal itu pasti akan terjadi. Friendster menjadi korban Facebook, Ojek pangkalan menjadi korban Go-Jek, dan jika kita tidak mau mencari korban, maka bersiaplah bisnis kita menjadi korban selanjutnya.

Hello (again) world!

Hola hola! Udah lama kaga nulis nih, terakhir nulis panjang buat tugas Learning Journal 4 di matkul MPL.. haha

Singkat cerita, ini blog ga keurus sampai-sampai hostignya expired (belum sempet back-up 🙁 ). Cuma domainnya masih sampai akhir tahun expirednya. So, I decide to relive this blog again. Meskipun pada akhirnya sama aja, ga ada kontennya. Tapi semoga kali ini ga gitu lagi. Harapannya aku tetep ngerawat blog ini lagi, entah itu catatan kuliah, atau cuma bacotan belaka. Semoga semakin rajin nulisnya, at least satu paragraf meskipun isinya ga penting-penting banget. Lagian dibaca sendiri wkwkk.

Udah kali, gitu aja. Mungkin kedepannya bakal sering-sering ngobrolin masalah bisnis dan startup digital. bai bai!

Eh ya, Selamat Hari Raya Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin yakk